POLA DISTRIBUSI DAN FAKTOR LINGKUNGAN KERANG LOKAN Geloina erosa (Solander 1786) DI EKOSISTEM MANGROVE BELAWAN
Oleh : Uswatul Hasan
Abstrak
Pola Distribusi dan Faktor Lingkungan Kerang lokan Geloina erosa (Solander 1786) di Ekosistem Mangrove Belawan, telah diteliti pada bulan Desember 2013 – Februari 2014. Sampel G erosa diambil dari 3 stasiun pengamatan dan setiap stasiun pengamatan dilakukan 3 ulangan (perbulan) pengambilan sampel. Metoda yang digunakan dalam menentukan titik pengambilan sampel adalah "purposive sampling" dalam sampel G. erosa langsung dikumpulkan dengan cara menangkap dengan tangan pada saat surut terendah. Dari Hasil Analisis data diperoleh Pola Distribusi pada stasiun 1 Nypa fruticans secara bergerombol/mengelompok, stasiun 2 vegetasi Heterogen dan stasiun 3 vegetasi Sonneratia casiolaris secara seragam. Sedangkan faktor lingkungan antara lain : Suhu, Salinitas, pH air, pH sedimen, DO, Nitrat dan Fosfat menunjukkan kondisi kualitas air yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan Geloina erosa.
Kata Kunci : Faktor Lingkungan, Geloina erosa, Kerang Lokan, Pola Distribusi,
Pendahuluan
Filum molusca merupakan suatu kelompok hewan yang bertubuh lunak dan tidak memiliki tulang belakang (avertebrata), salah satu dari Filum molusca adalah kelas Bivalvia yang umumnya berbentuk simetri lateral, cangkang terdiri dari dua katup dan kedua katup cangkang dihubungkan oleh suatu engsel pada bagian dorsal (ligament) dan di tutup dan dibukakan oleh sepasang otot “abductor”. Sebagian besar kelompok hewan ini mempunyai cara makan dengan memfilter bahan organik yang tersuspensi di perairan “filter-feeder” dengan menggunakan insangnya. Salah satu jenis bivalvia adalah kerang lokan (Geloina erosa) yang hidup di daerah pasang surut yang banyak ditumbuhi oleh pohon mangrove. Sesuai dengan kebiasaan spesies ini hidup di dalam sedimen rawa mangrove.
Potensi sumberdaya kerang-kerangan di Indonesia mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dengan total nilai ekonomis pada tahun 2007 mencapai Rp. 1,86 trilyun dan perkembangan produksi dalam kurun waktu 2005 - 2007 mengalami peningkatan yaitu dari 144.634 ton pada tahun 2005 menjadi 171.595 ton pada tahun 2007 atau mengalami peningkatan sebesar 18,64% (Bengen, 2009). Pada saat ini di pasar lokal (Kelurahan Sicanang) kerang lokan dijual di dengan harga Rp. 10.000,- – Rp 15.000,- per kilogram serta memiliki nilai gizi yang tinggi. Suaniti (2007) menerangkan bahwa kelompok kerang memiliki kandungan protein sebesar 7,06% - 16,87%, lemak sebesar 0,40 - 2,47%, karbohidrat sebesar 2,36-4,95% serta memberikan energi sebesar 69 - 88 kkal/100 gram daging. Geloina erosa oleh penduduk di daerah sekitar perairan Belawan disebut juga kerang lokan, tetapi pada daerah lain sering juga disebut kerang kepah atau kerang totok. Kerang lokan banyak ditemukan di hutan mangrove di sekitar Daerah Aliran Sungai Belawan, Propinsi Sumatera Utara. Hutan mangrove dengan luas 1.510 Ekosistem mangrove salah satunya dicirikan dengan tingginya keanekaragaman yang berasosiasi diantaranya kelompok kerang–kerangan dari famili Corbioculidae yang berasosiasi dengan mangrove seperti Geloina erosa (Morton, 1984).
Aspek lain yang turut berperan untuk keberlanjutan kerang mangrove adalah aspek lingkungan diantaranya kondisi mangrove sebagai habitat kerang yang belum pulih akibat bencana alam (Wibisono dan Suryadiputra, 2006). Berkurangnya hutan mangrove di sepanjang wilayah perairan Belawan, terutama di sebabkan karena terjadinya konversi hutan mangrove menjadi berbagai keperluan termasuk pemukiman, lokasi industri, alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pemanfaatan kayu bakau untuk berbagai keperluan. Akibat konversi lahan tersebut menyebabkan rusaknya hutan mangrove sehingga habitat kerang lokan pun mengalami degradasi. Apabila hal tersebut terus menerus berlanjut, maka dikwatirkan bahwa sumberdaya lokan dari daerah ini akan semakin menurun dan bahkan tidak mustahil suatu saat akan menjadi punah.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dilakuan penelitian terhadap kerang lokan (Geloina erosa) di daerah Perairan Belawan. Hal ini untuk memperoleh data tentang Pola Distribusi dan Faktor lingkungan kerang lokan, mengingat pentingnya potensi sumberdaya kerang-kerangan di perairan Belawan selain sebagai plasma nutfah, konsumsi dan sumber mata pencaharian.
Metoda Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2013 sampai akhir Februari 2014, pengambilan sampel kerang lokan diambil pada saat air pasang surut pada areal hutan mangrove, Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. yang dibagi dalam 3 (tiga) stasiun berdasarkan jarak jenis vegetasi mangrove. stasiun 1 hutan mangrove vegetasi Nipah (Nypa fruticans). Stasiun 2, hutan mangrove vegetasi heterogen dan stasiun 3 hutan mangrove vegetasi Berembang (Sonneratia cassiolaris). Untuk menentukan Pola distribusi kerang lokan (Geloina erosa) ditentukan dengan menggunakan Indeks Penyebaran Morisita (Khouw, 2009) berdasarkan rumus :
Id=n[(∑X^2_ ∑X)/(∑(X)^2_∑X)]
Keterangan :
Id = Indeks Penyebaran Morisita
n = Jumlah plot / besar sampel
∑X = Jumlah Individu disetiap plot
∑X2 = Jumlah individu disetiap plot dikuadratkan
Dengan kriteria pola sebaran sebagai berikut:
· Jika nilai Id = 1, maka distribusi populasi kategori acak
· Jika nilai Id >1, maka distribusi populasi kategori bergerombol/mengelompok
· Jika nilai Id <1, maka distribusi populasi kategori seragam
Pengukuran faktor lingkungan dilakukan secara Ex situ dan In situ.
Hasil dan Pembahasan
A. Pola Distribusi Kerang lokan (Geloina erosa)
Pola penyebaran G. erasa yang diperoleh pada 3 stasiun penelitian di sungai Sicanang Kecamatan Medan Belawan terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pola Sebaran rata-rata Populasi Kerang Lokan (Geloina erosa) di Ekosistem Mangrove Belawan
Pengamatan
|
Id
|
Pola Penyebaran
| |
Stasiun 1
|
1.009
|
Bergerombol/mengelompok
| |
Stasiun 2
|
0.654
|
Seragam
| |
Stasiun 3
|
0.854
|
Seragam
| |
Berdasarkan Tabel 1. G. erasa pada 3 stasiun melihat pola penyebaran yang berbeda rata-rata bergerompol/mengelompok, hal ini berhubungan dengan vegetasi mangrove dan pola penyebaran kerang lokan banyak ditemukan di sekitar rumpun dan bongkol tumbuhan Nypa fruticants, yang dinaungi pelepah dari nipah dengan tekstur lumpur, kandungan fraksi pasir 44.56%. Lokasi penelitian ini berdekatan dengan alur sungai dan arus relatif lambat sehingga bahan organik cenderung melimpah karena partikel- partikel akan mengendap di dasar perairan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Dwiono (2003) Geloina erosa lebih menyukai tanah dengan ukuran butiran sedimen yang relatif lebih halus. Menurut Nybakken (1988) menyatakan bahwa pola penyebaran berkelompok berkaitan dengan kemampuan larva hewan bentik memilih daerah yang akan ditempatinya. Larva kerang beraksi terhadap faktor-faktor kimia dan fisika tertentu, jika substrat tidak baik, mereka tidak akan menetap atau bermetamorfosis.
Sedangkan pada Stasiun 2 dan 3 pola penyebaran secara seragam, hal ini berhubungan dengan kerapatan mangrove, di samping itu persaingan dalam mencari makanan juga menyebabkan kerang memiliki pola penyebaran secara seragam.
B. Faktor Lingkungan
Hasil pengukuran faktor lingkungan perairan pada masing-masing stasiun penelitian pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pengukuran Parameter Rata-rata Fisika, Kimia dan Sedimen
Parameter
|
Stasiun
| ||
1. ( N fruticants)
|
2. (Heterogen)
|
3. (S. casiolaris)
| |
FISIKA
| |||
Suhu ( oC)
|
27.8
|
28,5
|
28
|
KIMIA
| |||
Salinitas (‰)
|
5
|
20
|
18
|
pH air
|
6.2
|
6.8
|
6.6
|
pH Sedimen
|
6
|
6.5
|
6.2
|
DO (mg/l)
|
3
|
3.4
|
3.2
|
Nitrat (ppm)
|
11
|
13,7
|
4
|
Posfat (ppm)
|
0.2
|
0.44
|
0.03
|
1. Suhu
Secara umum suhu pada lokasi penelitian berkisar antara 27.5 – 28.5 oC, berada dalam kondisi optimum dan cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan kerang lokan (G. erosa). Kondisi ini sesuai dengan baku mutu kehidupan kerang mangrove yang memiliki suhu optimum berkisar 25 – 32.5 oC. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Widhowati et al, (2006) di Sagara Anakan Cilacap suhu berkisar 20-28 oC, Gimin et al, (2004) menemukan Geloina ada 2 species yaitu Geloina erosa dan Geloina expanca di perairan Australia Utara dengan kondisi suhu 22,10-28,50 oC. Suhu optimum bagi moluska bentik berkisar antara 25 dan 28oC (Razak 2002)
Menurut Budiman, (1991), Verween et al. (2007) bahwa parameter yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bivalvia salah satunya adalah suhu. Kelarutan berbagai jenis gas di dalam air serta semua aktifitas biologis-fisiologis di dalam suatu ekosistem pengairan, sangat dipengaruhi suhu (Sudrajat, 2006)
2. Salinitas
Hasil pengukuran nilai salinitas perairan di ekosistem mangrove Belawan berkisar antara 5 – 20 ‰, kondisi salinitas yang ditemukan masih tergolong baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan kerang lokan (G. erosa). Hal ini sesuai dengan habitat kerang terutama kerang mangrove G. erosa, kawasan ekosistem mangrove memiliki salinitas perairan 10- 30 ‰ (Kusmna et al, 2005), 10-40 ‰ (Noor et al. 2006), 2-36 ‰ (Setiabudiandi, 1995) dan antara 0-30 ‰ (Bengen 2004). Terjadi fluktuasi salinitas di suatu perairan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor musim yang ada di tempat tersebut dan jumlah sungai yang mengalir di suatu kawasan ini.
Menurut Nybakken (1992) bahwa pola gradien salinitas estuari bervariasi tergantung musim, topografi, pasut dan jumlah air tawar.
3. pH air
Nilai pH air yang ditemukan dalam penelitian ini relatif stabil berkisar antara 6.2 – 6.8, hal ini sesuai dengan pendapat Widhowati et al. (2006) pH air berkisar 6.20 – 6.50, Gimin et al, (2004) pH air meliputi 5.32 – 7.66, Dwiono (2003) dan Raharwarlin (2005) di ekosistem mangrove papua memiliki pH 5.66 – 7.66. Penelitian yang dilakukan Natan (2007) terhadap kerang Anodontia edentula yang hidup di ekosistem mangrove teluk Ambon yaitu 6.2 – 6.4. Berdasarkan hasil pengukuran diatas menunjukkan bahwa kondisi perairan tempat hidup dan berkembang biak kerang G. erosa dalam kisaran pH asam dan basa.
4. pH sedimen
Hasil pengukuran pH sedimen di perairan Belawan selama penelitian berkisar 6 – 6.5, nilai pH tersebut masih berada dalam kisaran yang baik untuk kehidupan G. erosa. Hal ini selaras dengan pendapat Tamsar et al, (2013) nilai pH substrat berkisar 6 – 6.3. Menurut Morton (1994), bahwa pada kawasan hutan mangrove di Karabia dimana terdapat di tepi laut, terdapat beberapa jenis tanaman seperti Nypa fruticans, Cocos mucifera dan di antara akar-akar tanaman tersebut terdapat aliran sungai kecil yang berupa genangan kolam, disini terdapat Polymesoda sp. atau Geloina jenis Geloina erosa dan G. ekspansa secara bersama-sama. Pada daerah ini pH tanah mangrove berkisar antara 5,35-6,28.
5. DO (Dissolved Oxygen)
Pengukuran oksigen terlarut yang dilakukan dalam 3 stasiun penelitian berkisar antara 3.0 – 3.4 mg/l, sedangkan menurut Romimohtarto dan Juwana (2007) menyatakan bahwa standar baku mutu air laut untuk konsentrasi oksigen terlarut adalah 4-6 mg/l, dengan batas minimal toleransi 4 ppm. Tetapi dari hasil penelitian Nasution dan Yurisma (2004) menyatakan Geloina expansa di perairan Dumai Riau dengan kisaran oksigen terlarut 2.6 – 2.9 mg/l. sedangkan penelitian Natan (2008) di Teluk Ambon Bagian Dalam nilai oksigen terlarut yang diperoleh berkisar 1.5 – 3.30 mg. KEPMENKLH (1988) mengisyaratkan bahwa kandungan oksigen terlarut sebesar > 4 mg/l baik untuk kehidupan organism di perairan laut.
6. Kadar Nitrat (NO3)
Kadar nitrat selama penelitian berkisar antara 4 – 13.4 mg/l, tergolong tinggi, hal ini dapat terjadi karena lokasi penelitian merupakan daerah muara dari alur sungai yang mempunyai nitrit yang tinggi dan oleh aktivitas mikroorganisme dioksidasi menjadi nitrat. Menurut Ulqodry et al (2013) Proses oksidasi nitrit menjadi nitrat terjadi oleh aktivitas bakteri dari kelompok nitrobacter dengan reaksi NO2 + O2 —> NO3. Proses oksidasi oleh mikroorganisme ini dikenal sebagai proses nitrifikasi.
Menurut Ranoemihardjo (1988), konsentrasi nitrat akan menurun pada musim panas akibat adanya aktivitas fotosintesa yang tinggi, tetapi pada saat yang sama akan terjadi peningkatan konsentrasi nitrat sebagai akibat proses membusuknya zat-zat organik. Di lautan terbuka, kadar nitrat akan semakin besar dengan besarnya kedalaman lautan, hal ini disebabkan tenggelamnya partikel-partikel yang mengandung nitrat serta terjadinya peruraian pertikel tersebut menjadi nitrogen anorganik, sehingga distribusi nitrat pada lautan terbuka dapat dikatakan hampir seragam baik secara horisontal maupun vertikal.
7. Kadar Fosfat (PO4)
Kadar nitrat selama penelitian berkisar antara 0.2 – 0.44 mg/l tergolong tinggi hal ini sesuai dengan pendapat Goldman dan Horne (1983) Fosfor merupakan unsur pembatas pertumbuhan yang umum pada fitoplankton, meskipun fosfor ini dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Pada umumnya fosfat di perairan alami tidak lebih dari 0.1 mg/1. Apabila kandungan fosfat cukup tinggi maka akan terjadi eutrofikasi.
Ortofosfat (PO4-P) terlarut merupakan fosfor dalam bentuk anorganik yang dapat langsung dimanfaatkan dan mudah diserap oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya (Lind 1979).
Kesimpulan
Pola penyebaran yang dijumpai di hutan mangrove Belawan memperlihatkan bahwa pada stasiun 1 memiliki pola penyebaran bergerombol/berkelompok, sedangkan pada stasiun 2 dan 3 memiliki pola penyebaran seragam.
Faktor lingkungan Suhu, pH air, pH sedimen, DO, Nitrat dan Fosfat menunjukkan kondisi perairan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan Geloina erosa.
Daftar Pustaka
Bengen. D.G. 1995. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. 86 halaman.
Dwiono, S.A.P. 2003, Pengenalan Kerang Mangrove Geloina erosa dan Geloina expansa, Oceana, Vol. 28, No.2:31 – 38 hal.
Gimin. R., Mohan R., Think L.,V and A. D. Griffiths. 2004. The Relationships of Shell Dimention and Shell Volume to Live Weight and Soft Tissue Weight in The Mangrove Clam Polymesoda erosa (Solander, 1786). Northern Australia. NAGA, WolrldFish Centre Quarterly, 27: 32-35.
Khouw AS. 2009. Metode dan Analisa Kuantitatif Dalam Bioekologi Laut. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K). DKP. Jakarta
Morton, B. 1984, A Review of Polymesoda erosa (Geloina) Gray 1842 (Bivalvia : Corbiculidae) from Indo-Pasific Mangroves, Asian Marine Biology. 77 – 86 p.
Natan Y. 2008. Studi Ekologi dan Reproduksi populasi Kerang lumpur Anodontia edentula pada ekosistem mangrove Teluk Ambon bagian dalam. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 179 halaman.
Nybakken. J.W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan Muhammad Eidman dkk, PT. Gramedia Pustaka Utama.
Razak A. 2002. Dinamika karakteristik fisik- kimia sedimen dan hubungannya dengan struktur komunitas moluska benthik di Muara Bandar Bakali Padang. Thesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 106 hal.
Tamsar. Emiyarti dan Wa Nurgayah, 2013. Studi Laju Pertumbuhan di Tingkat Eksploitasi Kerang Kalandue (polymesoda erosa) Daerah Hutan Mangrove di Teluk Kendari. 5 halaman
Wibisono ITC dan INN Suryadiputra. 2006. Hasil Studi pembelajaran dari restorasi mangrove/ekosistem pesisir di Aceh dan Nias Pasca Tsunami. Bogor. Wetlands Internasional.
Widhowati I, J. Suprijanto, SAP Dwiono dan R Hartati. 2006. Aspek Reproduksi Kerang Totok Polymesada erosa dari perairan Segara Anakan Cilacap. Semarang. Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.
Verween A.,Vincx M., Degraer S. 2007. The effect of Temperature and Salinity On the Survival of Mytilopsis Leucophaeata larvae (Mollusca, Bivalvia): The search for environmental limits. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 348: 111–120.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan masukan komentar anda dengan bijak dan sopan. Semua adalah belajar dan mencari kebenaran dan logika yang lebih Rasional demi umat yang banyak.